Monday, April 19, 2021

Politik Kelor Dan Enterpreneurial

Pascadebat Pilgub NTT di televisi 5 April 2018, wacana kelor sebagai salah satu solusi persoalan gizi NTT menjadi viral. Sayangnya, solusi konsumsi kelor menjadi bahan olok-olokan di media sosial, bukannya kritik yang secara berimbang melihat untung dan ruginya konsumsi kelor. Ada yang mengatakan tak perlu jadi gubernur untuk mengkampanyekan makan kelor karena sejak dulu mereka sudah makan kelor. Ada yang mempertanyakan efektivitas kelor kalau gizi buruk selalu menjadi momok NTT, walau kelor adalah tanaman endemik dan dikonsumsi turun temurun. Ada yang malahan latah mengirim screenshot sisi negatif kelor sebagai petunjuk konsumsi kelor itu buruk dan bukan pilihan kreatif dan out of fashion alias ide ‘zaman old’.

Argumentasi penulis adalahhanya mereka yang dibesarkan oleh kerasnya hidup,dan dilumuri asam dan garam kehidupanlah, yang berorientasi pada solusi ketimbang masalah. Seperti kata sang bijak, tak ada yang baru di bawah kolong langit, demikian juga banyak masalahdapat diselesaikan dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada. Kita membutuhkan mereka yang jeli melihat solusi dalam cengkarut persoalan hidup. Kelor adalah satu contoh dari sekian banyak pilihan sederhana penyelesaian masalah hidup ber-NTT. Karena itu, penulis akan menggambarkan mengapa kelor adalah salah satu solusi efektif untuk gizi buruk orang NTT. Kedua, penulis mencobai memahamisuasana kebathinan,yang mendorong Viktor Laiskodat, melontarkan kelor dalam debat yang bergengsi tersebut. Yang ketiga, penulis menyimpulkan pemimpin dan kepemimpinan macam apa yang NTT butuhkan mengingat aneka kompleksitas karakteristiknya.

Wikipedia menampilkan kisah menarik, Telur Columbus,yang mengisahkan ceritera dalam pesta perayaanp enemuan Benua Amerika oleh Christopher Columbus. Banyak aristokrat Spanyol yang hadir dengan arogan mencibiri Columbus. Menurut mereka penemuan benua Amerika adalah keniscayaan dan kesuksesannya adalah kebetulan belaka. Sebagai tanggapan atas cibiran itu, Columbus mengambil sebutir telur matang dan meminta mereka untuk menegakkan telur tersebut. Banyak hadirin mencoba dan gagal. Malahan ada yang tak mencoba karena yakin menegakkan telur dengan ujung lancip vertikal itu takkan mungkin. Sang penemu benua baru itu, mengambil telur tersebut, mengetukkan ujung yang lancip ke meja sampai telur itu bisa berdiri tegak. Suatu tindakan sederhana yang bisa dilakukan semua orang tetapi tidak dipikirkan kebanyakan orang.

Kelor adalah tanaman biasa dan kampungan Nusa Tenggara Timur, yang sangat cocok di daerah semi-arid seperti tanah kita yang tandus. Hebatnya kelor atau marrungga memiliki kandungan nutrisi sangat lengkap sampai didaulat sebagai ‘tanaman ajaib’. Kelor tentu bukan tidak memiliki kekurangan dan satu-satunya solusi bagi persoalan kurang gizi NTT. Tetapi kelor memiliki keunggulan untuk dipilih menjadi salah satu opsi menyelesaikan persoalan kurang gizi buruk secara efektif. Mengapa? Karena kelor bisa tumbuh dengan subur di NTT, bahkan telah dibudidayakan secara komersial. Orang NTT memiliki kebudayaan makan kelor sehingga tidak ada hambatan kultural dan psikologis dalam mensosialisasikan konsumsi kelor. Kandungan gizi kelor yang sangat lengkap ibarat sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui.

Latest news

Breaking News:Satu Lagi Pasien Covid-19 di Belu Meninggal Dunia

Atambua,NP-Satu lagi pasien Covid-19 meninggal dunia di RSUD Mgr.Gabriel Manek Atambua Sabtu malam(23/1/2020). Juru Bicara Satuan Tugas penanganan Covid-19...

Satu Lagi Pasien Covid-19 di Belu Meninggal

Atambua,NP-Hingga Rabu (13//2021) sudah dua orang pasien dengan gejala Covid-19 meninggal munia di RSUD Atambua.  Pasien 01 meninggal RSUD Mgr. Gabriel...

KPK Minta Kemensos Hapus Jutaan Penerima Bansos yang Tak Miliki NIK

Jakarta,NP-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan memantau penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI bagi warga terdampak corona pada 2021. KPK...

Breaking News:Pesawat Sriwijaya Air Jakarta-Pontianak Hilang Kontak

Jakarta,NP- Pesawat komersial Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan  SJ 182 rute Jakarta-Pontianak dikabarkan hilang kontak, pada Sabtu (9/1/2020). Manager of Branch Communication PT...

Related news

Breaking News:Satu Lagi Pasien Covid-19 di Belu Meninggal Dunia

Atambua,NP-Satu lagi pasien Covid-19 meninggal dunia di RSUD Mgr.Gabriel Manek Atambua Sabtu malam(23/1/2020). Juru Bicara Satuan Tugas penanganan Covid-19...

Satu Lagi Pasien Covid-19 di Belu Meninggal

Atambua,NP-Hingga Rabu (13//2021) sudah dua orang pasien dengan gejala Covid-19 meninggal munia di RSUD Atambua.  Pasien 01 meninggal RSUD Mgr. Gabriel...

KPK Minta Kemensos Hapus Jutaan Penerima Bansos yang Tak Miliki NIK

Jakarta,NP-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan memantau penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI bagi warga terdampak corona pada 2021. KPK...

Breaking News:Pesawat Sriwijaya Air Jakarta-Pontianak Hilang Kontak

Jakarta,NP- Pesawat komersial Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan  SJ 182 rute Jakarta-Pontianak dikabarkan hilang kontak, pada Sabtu (9/1/2020). Manager of Branch Communication PT...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here