Monday, October 26, 2020

Unik, Siswa SLTP di TTU-NTT Diajarkan Menenun

Kefamenanu,NttPost-Di tengah hiruk pikuknya banjir informasi serta kemudahan akses perangkat seperti smartphone dan gadget, masih ada sekelompok remaja yang dilatih untuk terus mengenal dan mengembangkan kekayaan budaya tak benda yang dimiliki masyarakat setempat.

Adalah siswa-siswi SLTP St. Yoseph Maubesi di kecamatan Insana Tengah, kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) propinsi Nusa Tenggara Timur(NTT).

Menenun adalah warisan budaya yang dimiliki masyarakat setempat. Karena itu, untuk merawat kekayaan budaya tersebut, dengan memanfaatkan mata pelajaran Seni Budaya di sekolah tempat ia mengabdi, Ibu Petronela Manekat menjadikan kegiatan menenun sebagai bagian dalam pelajaran Seni Budaya.

Kegiatan menenun yang diajarkan kepada para siswa ini sudah berlangsung selama dua tahun. Sejak ia mendampingi anak-anak didiknya ketika masih duduk di kelas VII hingga saat ini sudah pada kelas IX.

Petronela menuturkan, alasan dan motivasi dirinya menjadikan kegiatan menenun sebagai bagian dari pelajaran Seni budaya di sekolah karena ia ingin agar peserta didiknya sebagai generasi muda yang adalah genrasi penerus bisa mengenal dan mengembangkan tradisi menenun agar tidak hilang dari masyarakat.

“Materi pelajaran tentang menenun kita masukan ke pelajaran Seni Budaya sejak kelas VII. Siswa kelas IX yang sementara praktek ini mereka sudah belajar sejak masih di kelas VII”, ujar Petronela yang mengaku sudah menekuni kegiatan menenun sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Saat ini, lanjut Petronela, siswi yang dilatih untuk menenun sebanyak 100 orang lebih. Tidak hanya siswi   yang dilatih menenun, para siswa juga dilibatkan dalam proses pembuatan alat-alat tenun. Dimana dalam seminggu, anak-anak didiknya membawa alat tenun ke sekolah saat jam pelajaran Seni Budaya lalu saat pelajaran, semua siswi diajarkan untuk menenun mulai dari tahap memintal benang, membuat motif hingga tahap menenun sampai menghasilkan tenunan.Sementara para siswa dilatih untuk membuat alat-alat tenun.

Dituturkan, pada tahap awal sejak siswinya masih di kelas VII, Petronela mengajarkan pengetahuan awal dalam menenun seperti memintal benang dan belajar membuat motif. Setelah itu, siswa diajarkan untuk menenun. Sementara, para siswa dilatih untuk membuat berbagai alat dan perlengkapan penunjang menenun.

“Mereka sudah bisa menenun dan bahkan sudah ada hasil yang saat ini kita kumpulkan”, ujar Guru Bahasa Indonesia alumni Universitas Timor yang sudah empat tahun mengabdi di sekolah tersebut.

Setelah dua tahun berproses, kini para siswi sudah bisa menghasilkan tenunan dimana ada dua jenis  tenunan yang dihasilkan para siswi seperti motif Ma’lote yakni cara  membuat motif menggunakan lidi dan motif Ma’Buna yaitu mengasilkan motif dari proses mengikat benang. Dari kedua jenis ini, jelas Pteronela, motif Ma’buna relatif lebih sulit. Namun demikian, para siswa bisa belajar dan sudah bisa bisa memproduksi tenunan dengan motif Ma’buna.

Tenunan motif Ma'Buna yang dihasilkan para siswi SLTP St. Yoseph Maubesi,TTU-NTT(Foto:Ist)
Tenunan motif Ma’Buna yang dihasilkan para siswi SLTP St. Yoseph Maubesi,TTU-NTT(Foto:Ist)

“Saya memilih materi tenun dikembangkan dalam mata pelajaran Seni Budaya karena dalam mata pelajaran itu ada yang tentang pengembangan seni rupa seperti menyulam dan menenun sehingga saya putuskan untuk menerapkan tradisi yang dimiliki masyarakat disini sehingga jangan sampai tradisi ini menghilang karena anak-anak tidak diajarkan dan dilatih untuk menenun”,ujar Petronela.

Dituturkan, anak-anak peserta didik sangat antusias dan semangat untuk belajar menenun. Ia berharap kegiatan menenun ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sehingga para peserta didik sebagai generasi penerus lebih mengenal kekayaan budaya yang dimiliki serta berusaha untuk terus mengembangkannya dimasa-masa yang akan datang.(M2/NttPost)

Latest news

Sekelompok Pemuda Hadang dan Rusaki Mobil Tim Sahabat Saat Kampanye di Naitimu

Atambua,NP-Aksi premanisme dan tindakan tidak terpuji yang menodai pesta demokrasi dipertontonkan sekelompok pemuda di desa Naitimu kecamatan Tasifeto Barat, Belu saat calon...
- Advertisement -

Luar Biasa.! Penyambutan Sahabat di Naitimu

Atambua,NP-Luar biasa, penyambutan calon Bupati Wilybrodus Lay dari paket Sahabat saat hendak menggelar kampanye di dusun Nusikun,desa Naitimu kecamatan Tasifeto Barat,Belu Sabtu(17/10/2020).

Satu Pelaku Perjalanan dari Bogor Terkonfirmasi Postif Covid-19

Atambua,NP-Satu pasien di kota Atambua,kabupaten Belu terkonfirmasi Postif Covid-19. Pasien yang terkonfirmasi postif berinisial TBS(58).Demikian dilaporkan dalam rilis Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten...

Dengan Label ‘Pemimpin Bodoh’ WL-OL Berhasil Raih Lima Prestasi Sepanjang Sejarah Kepemimpinan Belu

Atambua,NP-Sejak tahapan pemilihan kepala daerah(Pilkada) Belu digulirkan, perang isu dan strategi tak terbendung dari dua paket kontestan pilkada Belu 2020.

Related news

Sekelompok Pemuda Hadang dan Rusaki Mobil Tim Sahabat Saat Kampanye di Naitimu

Atambua,NP-Aksi premanisme dan tindakan tidak terpuji yang menodai pesta demokrasi dipertontonkan sekelompok pemuda di desa Naitimu kecamatan Tasifeto Barat, Belu saat calon...

Luar Biasa.! Penyambutan Sahabat di Naitimu

Atambua,NP-Luar biasa, penyambutan calon Bupati Wilybrodus Lay dari paket Sahabat saat hendak menggelar kampanye di dusun Nusikun,desa Naitimu kecamatan Tasifeto Barat,Belu Sabtu(17/10/2020).

Satu Pelaku Perjalanan dari Bogor Terkonfirmasi Postif Covid-19

Atambua,NP-Satu pasien di kota Atambua,kabupaten Belu terkonfirmasi Postif Covid-19. Pasien yang terkonfirmasi postif berinisial TBS(58).Demikian dilaporkan dalam rilis Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten...

Dengan Label ‘Pemimpin Bodoh’ WL-OL Berhasil Raih Lima Prestasi Sepanjang Sejarah Kepemimpinan Belu

Atambua,NP-Sejak tahapan pemilihan kepala daerah(Pilkada) Belu digulirkan, perang isu dan strategi tak terbendung dari dua paket kontestan pilkada Belu 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here